Hadiah Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Untuk Bulan Suci Ramadhan tahun ini, Jurnal Parlemen Online memberikan hadiah kutipan tentang “Do’a untuk Orang Tua” dan “Do’a Nur”. Kedua doa ini sangat mentradisi dalam keluarga (Ahlul Bait) Rasulullah Muhammad Saw. Khusus untuk “Do’a Nur” perlu kami informasikan bahwa ia merupakan hadiah khusus dari Sayyidah Fathimah Az-Zahra (puteri kesayangan Baginda Rasulullah Saw.) kepada Salman Al-Farisi, pemuda Persia sahabat Rasulullah Saw.

Kami yakin Anda sudah memiliki banyak koleksi doa yang siap menjadi teman rukhani dalam menjalani ibadah Ramadhan. Namun, dua doa tadi mungkin juga dapat Anda jadikan sebagai pelengkap.

Ada satu doa lagi yang menurut kami juga sangat bermanfaat dalam menjalani ibadah Ramadhan, yakni “Do’a Sahar”, yang disusun oleh Prof Dr Seyyed Ahmad Fazeli, Direktur of The Islamic College Jakarta (dulu ICAS London, Cabang Jakarta). Untuk yang ini sebaiknya Anda tanyakan langsung ke “Ibn Arabi Corner”, The Islamic College Jakarta (e-mail: mullasadra@icas.ac.id).

Kami yakin, bila diamalkan dengan ikhlash, dua doa tersebut — dan juga “Do’a Sahar” — dapat menjadi penyejuk di tengah kegersangan politik yang kini menerpa hampir seluruh relung kehidupan di negeri tercinta ini.

Bahkan, kami berkeyakinan, rapuhnya bangunan kebangsaan dan kenegaraan kita saat ini berawal dari keroposnya tatanan “keluarga” sebagai unit terkecil dari sistem sosial; dan untuk mengatasi itu, “Do’a untuk Orang Tua” dapat dijadikan sebagai salah satu solusi utama. Dan juga bahwa kegelapan yang melanda ruang-ruang bathin sebagian masyarakat kita (terutama para elite politiknya), pasti akan mendapatkan rahmat pencerahan (enlightenment) melalui pelaziman pengamalan “Do’a Nur”. Insya Allah.

“Selamat menunaikan Ibadah Ramadhan”

(Redaksi Jurnal Parlemen Online: www.jurnal-parlemen-online.com)

Categories: Islam

Doa Jawsyan Kabir

July 31, 2011 1 comment

Doa Jawsyan Kabir merupakan doa yang berisi seribu Asma Allah, rincian dari Asmaul Husna. Allah swt berjanji di dalam Al-Qur’an akan mengijabah permohonan hamba-Nya jika berdoa dan bertawassul dengan Asmaul Husna. Allah swt menyuruh kita bertawassul dengan Asmaul Husna: 

“Allah memiliki Asmaul Husna, maka hendaknya kalian berdoa dengannya.” (Al-A’raf: 180).

Keutamaan Jawsyan Kabir

Doa Jawsyan Kabir memiliki banyak keutamaan, antara lain seperti yang disebutkan di dalam kitab Al-Baladul Amîn dan Al-Mishbâh:

Imam Ali Zainal Abidin (sa) meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi saw, ia berkata: “Ketika Nabi saw berada dalam salah satu peperangan, datanglah malaikat Jibril (as) kepadanya dan berkata: Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam untukmu dan berfirman: ‘Pakailah Jawsyan ini dan bacalah, doa ini akan menjadi pelindung bagimu dan umatmu.” Beliau menyebutkan keutamaan doa ini, antara lain:

1.  Jika teks doa ini dituliskan pada kain kafan, sang mayit akan diselamatan dari api neraka.

2 .Jika dibaca dengan ikhlas di bulan Ramadhan, ia akan dikaruniai malam Al-Qadar, diciptakan baginya 70 ribu malaikat semuanya bertasbih kepada Allah swt lalu pahala dihadiahkan kepada yang membacanya.

3. Jika dibaca di bulan Ramadhan (3 kali), Allah swt mengharamkan jasadnya dari api neraka, mewajibkan baginya surga, dan mewakilkan kepada dua malaikat  untuk menjaganya dari kemaksiatan dan dalam sepanjang hidupnya ia berada dalam pengamanan Allah swt.

Di akhir riwayat tersebut Al-Husein (sa) berkata: “Ayahku Ali bin Abi Thalib (sa) berwasiat kepadaku agar aku menjaga dan memuliakan doa ini, menuliskan pada kain kafannya, mengajarkan kepada keluargaku dan menganjurkan mereka agar membacanya. Doa ini terdiri dari seribu Asma Allah yang di dalamnya terdapat Ismul A’zham.”

Allamah Al-Majlisi, penulis kitab Bihârul Anwâr (kitab hadis dan riwayat) yang terdiri dari 120 jilid. Dalam kitabnya Zâdul Ma’âd ia mengatakan: Doa Jawsyan Kabir sangat dianjurkan untuk dibaca pada awal bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam Al-Qadar. Doa ini terdiri dari 100 pasal, setiap pasal terdapat sepuluh Asma Allah, dan setiap akhir pasal membaca:

سُبْحَانَكَ يَا لاَ اِلَهَ إلاَّ اَنْتَ اَلْغَوْثَ اَلْغَوْثَ خَلِّصْنَا مِنَ النَّارِ يَا رَبِّ 

 Subhânaka yâ lâ ilâha illâ Anta alghawts-alghawts khallishnâ minan nâri  yâ râbb.

Maha Suci Engkau, tiada Tuhan kecuali Engkau, lindungi kami, lindungi kami, lindungi kami, selamatkan kami dari api neraka ya Rabb.

Doa ini telah disyarahi oleh seorang ulama besar dan filosuf isyraqi yaitu Mulla Hadi Sabzawari. Dalam kitab syarahnya disebutkan tentang keajaiban doa ini. Semoga kita yang membacanya menemukan keajaiban doa ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab tersebut dan seperti orang-orang mukmin yang telah merasakannya.

Categories: Islam

Do’a Kumail

Allahumma shalli alaa Muhammad wa ali Muhammad

Doa Kumail adalah sebuah doa yang diajarkan Imam Ali bn Abi Thalib as kepada sahabat dan murid kepercayaannya, Kumayl bn Ziyad. Doa ini disebut-sebut juga sebagai Doa Nabi Khidir as.

Adapun amalan-amalannya dengan doa kumayl adalah sebagai berikut:

  • Imam Ali menyarankan Kumayl untuk membaca doa ini pada setiap malam Jumat, atau sekali dalam sebulan, atau paling tidak sekali dalam setahun. Sehingga, ditambahkan oleh Imam Ali, “Allah akan menjagamu dari kejahatan musuh-musuhmu dan dari perencanaan hal buruk oleh kaum munafik. Oh Kumayl! atas kesetiaan dan pemahamanmu, aku ijazahkan kamu doa ini”
  • Seorang sayid, ustadz, zahid, manusia yang wara’ dan teman bagi saya membacanya setiap hari sehabis Subuh. Semoga rahmat selalu terlimpah atasnya dan dilapangkan urusan-urusannya untuk kemaslahatan umat.
Categories: Islam

Doa Wahdah

Assalamualaikum dan selamat sejahtera semua. Syukur ke hadhirat ILAHI, selawat dan salam keatas junjungan besar Nabi Muhammad Sallallah Alaihi Wa Salam serta keluarga

Do’a Wehdah

لا إله إلاّ الله
إلهاً واحداً و نحن له مسلمون

لا إله إلاّ الله
و لا نعبد إلاّ إيّاه
مخلصين له الدين
و لو كره المشركون

لا إله إلاّ الله
ربّنا و ربّ آبائنا الأوّلين

لا إله إلاّ الله
وحده وحده وحده
أنجز وعده
ونصر عبده
وأعزّ جنده
وهزم الأحزاب وحده

فله المُلكُ و لهُ الحمد
يحيي و يميت
و يميت و يحيي
و هو حيٌّ لا يموت

بيده الخير
و هو على كلّ شيءٍ قدير

الله أكـــبر

Tiada Tuhan yang disembah selain Allah
Tuhan yang Maha Esa
dan kami berserah kepadaNya
Tiada Tuhan yang disembah selainNya
kami tidak menyerah selain kepadaNya
kami mengikhlaskan tunduk kepada Nya
walaupun dibenci oleh org musyrik
Tiada Tuhan selain Allah
Tuhan kami dan Tuhan nenek moyang kami
yang terdahulu

Tiada Tuhan yang disembah selain Allah
Tuhan yang Esa,Tuhan yang Esa,Tuhan yang Esa
Dia telah menunaikan janjiNya
Dia telah memenangkan hambaNya
Dia telah memuliakan tenteraNya
dan Dia telah mengalahkan musuhNya berseorangan

Bagi Allah segala kerajaan,bagi segala pujian
Dia yang menghidupkan dan mematikan
Dia yang mematikan dan menghidupkan
sedangkan Dia Maha Hidup dan tidak mati
Dalam segala kekuasaan dan kebajikan
dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu
Allah Maha Besar

____________________________________

Doa ini merupakan suatu penyaksian dan pengagongan kita kepada kekuasaan Allah swt. Kita meyakini dan kita mengakui akan kebesaran Allah swt.

Categories: Islam

Kawan Yang Baik Menurut Islam (2)

Salah satu tata krama dalam berkawan adalah kejujuran. Suatu hari seseorang yang amat mencintai Imam Hasan Mujtaba (as) mendatangi beliau dan berharap bisa bersahabat dengan beliau. Imam dengan wajah yang menyungging senyum membuka hati dan menyambut baik persahabatan dengannya. Beliau berkata, “Aku siap menjadi sahabat tapi dengan beberapa syarat.” Orang tersebut menyatakan siap menerima syarat apapun yang diajukan beliau. Imam Hasan berkata, “Jika engkau ingin bersahabat denganku jangan pernah memujiku sebab aku lebih mengenal siapa diriku. Jangan pernah berbohong kepadaku sebab kebohongan tidak ada nilainya, dan jangan pernah mengumpat orang di sisiku.” Orang itu terdiam membisu dan berpikir bahwa dia tidak mampu memenuhi semua syarat itu. Diapun berkata, “Wahai putra Rasulullah, izinkan aku pulang ke rumahku.” Imam tersenyum menanggapinya dan berkata, “Baiklah jika itu yang kau inginkan.” (Kalimat al-Imam al-Hasan hal: 168)

Adab yang lain dalam bersahabat adalah menghormati sahabatnya. Sebab dalam bersahabat, masing-masing pihak akan mendapatkan hak yang harus dijaga oleh sahabatnya. Salah satu hak itu adalah penghormatan. Islam menekankan keharusan bagi setiap orang untuk menghormati orang lain. Penghormatan terkadang menjadi kunci dalam meluruskan perilaku dan sifat orang.

Dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali (as) saat berjalan menuju Kufah berpapasan dengan seorang Yahudi yang juga sedang dalam perjalanan menuju pinggiran Kufah. Orang Yahudi itu tidak mengenali orang yang berpapasan dengannya itu, tak lain adalah khalifah kaum muslimin. Tapi karena kesamaan tujuan, mereka berjalan bersama. Selama perjalanan keduanya terlibat percakapan. Akhirnya mereka tiba di persimpangan jalan yang memisahkan Kufah dari desa-desa pinggirannya. Imam Ali (as) tidak memilih jalan ke Kufah tetapi ikut menyertai si Yahudi. Diapun bertanya-tanya keheranan. “Bukankah tujuanmu adalah kota Kufah?” Imam menjawab, “Benar”. “Lalu mengapa engkau mengikutiku dan tidak berjalan ke arah kota?” tanyanya lagi. Imam Ali tersenyum dan berkata, “Kita sudah berkawan dalam perjalanan ini. Apa yang kulakukan adalah demi menutup persahabatan dalam perjalanan ini dengan baik. Sebab Nabi Saw memerintahkan kami untuk menghormati kawan seperjalanan dengan berjalan bersamanya beberapa langkah untuk melepas kepergiannya.” Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Benarkah Nabi kalian yang memerintahkannya?” Imam Ali menjawab, “Benar.” Menyaksikan akhlak mulia yang ditunjukkan Imam Ali, orang Yahudi itupun masuk Islam. (Al-Ushul min al-Kafi juz 2 hal: 670 hadis:5)

Tugas dan adab persahabatan yang lain adalah menjaganya dalam kondisi yang sulit seperti saat jatuh sakit. Luqman al-Hakim berkata, “Engkau tak akan pernah mengenal sahabatmu kecuali saat engkau memerlukannya.” (Bihal al-Anwar Juz: 74 hal: 178)

Diriwayatkan bahwa suatu hari salah seorang sahabat Imam Ali (as) yang bernama Harits al-Hamdani jatuh sakit dan nampaknya ajal tak lama lagi akan menjemputnya. Mendengar berita itu, Imam pun bergegas menjenguknya. Imam duduk di sisi pembaringan sahabatnya. Ketika Harist membuka matanya, ia melihat pujaan hatinya berada di sisi pembaringan. Setelah berbasa-basi sekedarnya, Imam Ali (as) berkata kepada Harist, “Wahai Harits! Di alam sana, manusia akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya.” Wajah Harits yang dikenal sebagai pencinta Ali terlihat berseri mendengar kata-kata Imam Ali yang diucapkannya sebanyak tiga kali itu. Untuk beberapa saat, Harits terlihat segar dan dia sempat duduk dan mengatakan, “Setelah ini, tak ada yang aku takutkan apakah aku yang menyongsong kematian atau kematian yang datang menjemputku.” Tak lama setelah itu Harits meninggal dunia. (Bihar al-Anwar juz: 6 hal: 179)

Tatakrama berikutnya dalam bersahabat adalah menghindari kesombongan dan kecongkakan dalam berkawan. Persahabatan akan kokoh ketika seseorang tak hanya menghormati sahabatnya tetapi juga tak pernah melihat dirinya lebih tinggi dan mulia dari sahabatnya. Dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis disebutkan kecaman keras terhadap kesombongan. Bahkan ayat 60 surat al-Zumar menyebut neraka sebagai tempat bagi orang yang sombong. Ayat 215 surat al-Syu’ara memerintahkan Nabi Saw untuk merendah di hadapan kaum mukminin.

Menurut Islam, kesombongan hanya sifat yang layak disandang oleh kaum durjana dan congkak. Sementara, orang yang bertaqwa lebih bersikap rendah hati dan bergaul dengan keakraban. Sebab rendah hati akan memperkokoh persahabatan dan mendatangkan keakraban dan kasih sayang. Dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda, “Sebaik-baik mukmin adalah orang yang mendatangkan keakraban di antara kaum mukminin”. Dan “Tak ada kebaikan pada orang yang tidak membuat orang lain akrab dengannya dan tidak mengakrabkan diri dengan orang lain.” (Bihar al-Anwar juz: 77 hal: 149)

Adab persahabatan yang lain adalah kepedulian untuk memberikan kritik membangun. Imam Sadiq (as) berkata, “Saudara seagama yang aku cintai adalah orang yang memberitahuku akan aibku.” (Ushul al-Kafi juz: 2 hal: 610) dalam hadis yang lain, Nabi Saw bersabda, “Mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.” (Safinah al-Bihar juz: 1 hal: 40). Hadis tadi menjelaskan satu hal tentang keterbukaan hati untuk menerima kritik. Ibarat cermin, sahabat akan menunjukkan kekurangan dan kelemahan sahabatnya untuk diperbaiki yang tentunya hal itu dilakukan dengan cinta dan ketulusan. Sahabat yang baik menunjukkan kekurangan sahabatnya apa adanya. Sahabat yang baik dan bijak juga akan menunjukkan kepada sahabatnya akan kelebihan yang ada padanya. Orang yang bijak tentu akan senang jika mengetahui aib dan kekurangan dirinya untuk bisa memperbaikinya.

Adab lain dalam persahabatan adalah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan pihak yang diminta maaf harus memaafkannya. Salah satu kriteria orang yang memiliki jiwa yang sehat adalah kesiapan dirinya untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan siap memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan terhadapnya. Orang yang tidak mau mengakui kesalahan sebenarnya ia lari dari kenyataan. Orang yang lari dari kenyataan tak akan pernah bisa meniti jalan kesempurnaan insani. Sebab, langkah awal untuk memperbaiki diri adalah mengakui kesalahan. Salah satu hal yang membuat orang sukar mengakui kesalahan adalah kesombongan dan takabbur. Orang yang demikian tak mau memandang dirinya bersalah lalu meminta maaf kepada orang lain.

Islam mengajarkan kepada kita untuk meminta maaf saat bersalah dan memaafkan kesalahan orang lain. Imam Ali (as) berkata, “Salah satu sifat yang paling mulia adalah memaafkan kesalahan orang lain.” (Syarah Ghurarul Hikam juz: 6 hal: 18) Dalam riwayat yang lain beliau berkata, “Orang yang paling buruk adalah yang tak mau memaafkan kesalahan orang.” (Syarah Ghurarul Hikam juz: 6 hal: 165)

Orang yang meminta maaf adalah orang yang, pertama, mengakui kesalahan. Lalu dengan menghilangkan kesombongan diri dia mau meminta maaf kepada sahabatnya. Perbuatan ini jelas layak dipuji dan penghargaan terbaik untuknya adalah memberinya maaf dengan tangan terbuka. Imam Ali (as) berkata, “Orang yang paling banyak memaafkan berarti dia memiliki makrifat yang besar kepada Allah.” (Syarah Ghurarul Hikam juz: 2 hal: 444)

 http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=34485&Itemid=77

Categories: Islam

Kawan Yang Baik Menurut Islam

Salah satu nikmat Ilahi yang Allah berikan kepada manusia adalah rasa sosial dan kebutuhan untuk bergaul dengan orang lain dan menjalin hubungan persahabatan dengan anggota masyarakat. Orang yang memiliki teman yang baik dan memanfaatkan hubungan itu dengan benar dan logis akan memiliki kehidupan individu dan sosial yang lebih baik. Anda tentunya memiliki kawan untuk berbicara, berbagi perasaan, saling menasehati dan saling membantu di kala susah. Sebagian orang punya kelebihan yang bisa menjalin hubungan persahabatan dengan banyak kawan sementara sebagian yang lain hanya puas dengan memiliki beberapa orang teman yang jumlahnya tak lebih dari hitungan jari. Tentunya, di antara kawan yang kita miliki adalah yang punya hubungan sangat dekat dan siap membantu dengan tulus saat kita mendapat kesusahan dan masalah.

Islam memandang persahabatan sebagai nilai yang agung dan menentukan dalam nasib dan kehidupan seseorang. Karena itu, baik Nabi Saw maupun para Imam Maksum Ahlul Bait dalam banyak kesempatan menekankan untuk memilih sahabat dan kawan dengan benar. Misalnya dalam hadis Nabi disebutkan bahwa beliau bersabda, “Manusia beragama seperti sahabatnya. Karena itu, hendaknya dia teliti dengan siapa dia menjalin persahabatan.” Hadis ini menerangkan sejauh mana pengaruh seorang kawan sehingga bisa mempengaruhi keberagamaan sahabatnya. Dalam hadis disebutkan, “Sahabat yang baik lebih baik dari kesendirian dan kesendirian lebih baik dari sahabat yang buruk.”

Islam menekankan kepada kita untuk teliti dalam memilih kawan dan sahabat. Oleh karena itu, kecintaan kepada seseorang tidak lantas meniscayakan jalinan persahabatan. Sebab, untuk bersahabat kita harus melihat dengan teliti darimana munculnya kecintaan itu dan apakah orang tersebut layak untuk dijadikan sahabat. Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata, “Orang yang menjalin persahabatan setelah teliti dalam memilih sahabat, maka persahabatannya akan langgeng dan kokoh.” Dari hadis tadi dapat difahami bahwa persahabatan yang dijalin tanpa dasar pemikiran yang benar akan berakhir buruk .

Kini yang menjadi pertanyaan, menurut Islam kriteria apakah yang mesti dimiliki sahabat yang baik? Menurut Islam, salah satu kriteria terpenting adalah kematangan orang dalam bernalar dan mengambil sikap yang logis dalam semua hal. Sahabat yang seperti ini adalah penasehat yang bisa dipercaya yang mencegah sahabatnya dari kesalahan. Banyak riwayat dan hadis yang menekankan untuk memilih sahabat yang bijak dan berakal. Diantaranya adalah hadis dari Imam Ali (as). Beliau berkata, “Bersahabat dengan orang yang arif dan bijak akan menghidupkan jiwa dan ruh.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa orang yang berakal adalah orang yang pandai bersikap. Orang yang demikian jelas akan mencegah sahabatnya dari perbuatan yang salah. Sementara, orang yang dungu dan bodoh justeru akan membuat malu orang lain karena perkataan, sikap dan perbuatannya.

Kriteria lain adalah akhlak dan budi pekerti yang baik. Menurut ajaran Islam, sahabat yang baik mesti memiliki akhlak yang baik dan jiwa yang bersih. Sebab, orang yang berperangai buruk akan mudah melakukan kejahatan, keburukan dan kesalahan. Dalam al-Qur’an al-Karim, Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak memilih kawan yang jahat, buruk, dan pendosa. Ayat 28 dan 29 surat al-Furqan menjelaskan kisah kawan yang buruk di hari kiamat kelak. Disebutkan di ayat itu bahwa seseorang yang berada di neraka menyesali karena salah memilih sahabat dan mengatakan, “Andai saja aku tidak menjadikan si Polan itu sahabatku. Dia telah mencegahku dari mengikuti kebenaran yang sebenarnya telah sampai kepadaku.”

Para pakar psikologi telah melakukan berbagai penelitian luas mengenai persahabatan. Mereka meyakini bahwa kawan dan sahabat di masa muda punya pengaruh besar dibanding sahabat yang dimiliki orang pada periode usia yang lain. sebab sahabat di masa muda punya peran besar dalam membentuk pemikiran dan agenda hidup seseorang. Para psikolog berpendapat bahwa secara kejiwaan, anak muda sangat mudah dipengaruhi dan salah satu yang punya pengaruh besar terhadapnya adalah sahabat. Islam mengenal dengan baik kriteria masa muda ini sehingga menekankan kepada pengikutnya untuk berhati-hati dan teliti dalam memilih kawan.

Mengenai persahabatan dengan orang yang tidak baik, Imam Ali (as) berkata, “Bersahabat dengan orang yang durjana akan mengakibatkan kesengsaraan tak ubahnya seperti angin yang menyapu bangkai dan menyebarkan bau busuk bersamanya.” Riwayat ini mengingatkan kita akan bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh persahabatan dengan orang-orang jahat. Orang mungkin akan menjaga diri untuk tidak terpengaruh dengan perbuatan buruk mereka. Tetapi dia tetap tak bisa melepas diri dari imbas persahabatan ini yang hanya menghadiahkan cela baginya di tengah masyarakat. Mungkin orang akan mengatakan bahwa dia bisa menjaga diri meski berkawan dengan orang-orang jahat dan pendosa. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah bahwa manusia bukanlah batu atau kayu mati yang sama sekali tidak tepengaruh oleh perbuatan, perkataan dan sifat orang lain yang ada di sekitarnya. Semua itu akan berpengaruh pada diri kita tanpa kita sadari.

Kriteria lain dari sahabat yang baik menurut Islam adalah orang yang setia dengan tali persahabatan. Imam Sadiq (as) dalam sebuah riwayat menjelaskan hal itu dalam sebuah ungkapan indah. Beliau berkata, “Berkawan ada batasnya. Siapa saja yang menjaga batasan itu berarti dia adalah sahabat yang benar. Jika tidak, jangan bersahabat dengannya.” Beliau lalu menjelaskan batas-batas persahabatan dan berkata, “Batasan-batasan persahabatan adalah; Pertama, dia mesti bersikap sama baik didepanmu maupun dibelakangmu (Yakni menjaga kejujuran dan persahabatan). Kedua, menganggap kebaikanmu sebagai kebaikannya dan celamu sebagai celanya. Ketiga, tidak mengubah perilaku ketika dia mendapat kedudukan atau harta. Keempat, jika memiliki harta, dia tak akan pernah segan membantumu. Kelima, tidak membiarkanmu seorang diri kala engkau ditimpa masalah dan kesulitan.”

Kriteria berikutnya dari seorang sahabat yang baik adalah kesesuaiannya dengan kita. Sahabat yang baik adalah orang yang sederajat dengan kita dalam hal materi, kedudukan sosial, dan pemikiran. Imam Muhammad Baqir (as) berkata, “Bersahabatlah dengan orang yang sederajat denganmu. Jangan engkau bersahabat dengan orang yang menjaminmu sebab hal itu akan mengakibatkan kehinaan dan kerendahan bagimu.” Hadis ini mengingatkan kita akan harga diri manusia. Mungkin orang akan senang bersahabat dengan orang yang lebih kaya yang bisa membantunya secara finansial. Tapi sebenarnya persahabatan ini hanya akan membuatnya hina dan rendah di mata sahabatnya yang kaya.

Kriteria lain dari sahabat yang baik adalah kesabaran. Imam Ali (as) berkata, “Bersahabatlah dengan orang yang penyabar, dengan begitu engkau bisa belajar meningkatkan kesabaranmu.” Hadis ini menjelaskan pengaruh sahabat yang penyabar. Orang yang penyabar akan mudah merendahkan hati ketika muncul masalah dalam persahabatan. Dia akan mudah memaafkan kesalahan sahabatnya. Perselisihan yang mungkin muncul antara dia dengan kawannya tidak akan mudah merusak persahabatan. Tapi bagaimanakah kriteria orang yang penyabar? Imam Sadiq (as) menjelaskan, “Orang yang marah kepadamu sampai tiga kali tapi tak pernah mengucapkan kata-kata buruk terhadapmu, maka ia layak engkau jadikan sahabat.”

Sampai disini kita sudah membicarakan beberapa kriteria sahabat yang baik menurut ajaran Islam. Ada baiknya kita juga mengenal kriteria-kriteria orang yang tidak layak dijadikan kawan. Ada banyak riwayat yang menjelaskan hal ini. Salah satu riwayat yang terbaik dalam hal ini adalah hadis Imam Sajjad (as). Beliau berkata, “Anakku, cermatilah lima kelompok manusia yang tidak layak bagimu untuk bersahabat dengan mereka, berbicara dengan mereka dan berjalan bersama mereka. Hindari persahabatan dengan orang pendusta. Sebab dia ibarat fatamorgana yang menampakkan hal yang dekat seakan jauh dan hal yang jauh seakan dekat. Jangan kau berkawan dengan orang pendosa sebab dia siap menjualmu dengan imbalan sesuap makanan atau lebih sedikit dari itu. Jangan berkawan dengan orang yang kikir, sebab dia akan meninggalkanmu ketika engkau memerlukannya. Jauhi persahabatan dengan orang yang bodoh sebab dia akan merugikan dirimu ketika berniat melakukan kebaikan untukmu. Jauhilah pula orang yang memutuskan tali kekerabatan sebab aku dapatkan al-Qur’an telah mengutuknya.

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=34182&Itemid=79 

Categories: Islam

Pembangkit Semangat

Hal2 spiritual perlu mendapatkan pembimbingan agar bisa tumbuh, berkembang,
dan terjaga dari bahaya, hingga manusia meraih kesempurnaan hidupnya.

Siapa saja yang berusaha menjadi orang beradab dengan menjadikan adab ilahi
sebagai parameternya, dia pasti akan memperoleh kebahagiaan. Imam Ali(Bihar Al
Anwar, Jilid 92, halaman 214)

Ia(Al Quran) ia adalah kalam rahman, penjaga dari setan, dan nilai lebih
dalam timbangan(Rasulullah SAW)

Sesungguhnya kebaikan akan menyingkirkan keburukan(QS 11:114)

Sesungguhnya orang yang berusaha memahami al-Quran dan menghafalkannya dengan
susah payah dan kekuatan hafalan yang minim, pahalanya adalah dua kali lipat(Imam Jafar As-Shadiq)

Keberhasilan seorang perempuan dalam menjalankan peran sebagai pendidik non
formal bagi anaknya sangat bergantung pada kepribadian si perempuan sendiri

Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan janganlah memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan (QS 49:11)

Pilihlah kebiasaan-kebiasaan yang Terbaik karena kebaikan itu akan menjadi
kebiasaan(Imam Ali)

Fathima adalah penghulu para wanita penghuni surga(Rasulullah SAW)
Perempuan yg benar(ash-shiddiqah), suci(ath-thaahirah), pintar(az-zakiah)

Sebaik-baiknya perempuan adalah mereka yang tidak melihat laki-laki asing dan
tidak dilihat oleh laki-laki asing(Fatimah Az-Zahra)

Seseorang yang memberi salam dahulu akan terbebas dari sifat sombong

Jika mengikuti sunah memberi salam terlebih dahulu kepada orang lain, maka
sifat sombong akan lenyap dari diri kita dan selanjutnya kita akan menjadi
orang yang rendah hati. Dan oleh karena sikap rendah hati(tawadhu) itulah
Allah Swt akan meninggikan derajat seseorang(Imam Ja’far Shadiq)

Tidaklah seseorang bersikap rendah hati(tawadhu) melainkan pasti Allah akan
meninggikan derajatnya(Rasulullah Saw)

Siapa yang bertawadhu dalam urusan dunia dihadapan saudara seagamanya maka
disisi Allah ia termasuk kalangan shiddiqin.

Apabila engkau mencintai seseorang maka katakanlah(aku cinta padamu),karena
menunjukkan dan mangungkapkan rasa cinta akan menambah hubungan kalian semakin
erat(Ushul-Kafi, jil, 2, hal 644)

Rasulullah bersabda, “Seseorang hamba yang semakin bertambah imannya kepada
Allah Swt, maka kecintaan kepada isrti pun akan semakin bertambah”(Bihar- Anwar,jil 103, hal 228)

Rasulullah bersabda, “Ungkapan manis suami kepada istrinya “aku cinta padamu”
maka tidak akan perna sirna dari hati perempuan(Wasa’il Asyi’ah,jil 14,hal 10, hadis ke-9)

Imam Shadiq berkata, “Barangsiapa yang lebih mencintai kami, maka ia akan lebih mencintai istrinya”

—Aku Cinta Padamu—I love You—Aishiteru—Uhibbuki—Dustet Daram—

Categories: Lain - lain
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.