Posted in Islam

Kawan Yang Baik Menurut Islam (2)

Salah satu tata krama dalam berkawan adalah kejujuran. Suatu hari seseorang yang amat mencintai Imam Hasan Mujtaba (as) mendatangi beliau dan berharap bisa bersahabat dengan beliau. Imam dengan wajah yang menyungging senyum membuka hati dan menyambut baik persahabatan dengannya. Beliau berkata, “Aku siap menjadi sahabat tapi dengan beberapa syarat.” Orang tersebut menyatakan siap menerima syarat apapun yang diajukan beliau. Imam Hasan berkata, “Jika engkau ingin bersahabat denganku jangan pernah memujiku sebab aku lebih mengenal siapa diriku. Jangan pernah berbohong kepadaku sebab kebohongan tidak ada nilainya, dan jangan pernah mengumpat orang di sisiku.” Orang itu terdiam membisu dan berpikir bahwa dia tidak mampu memenuhi semua syarat itu. Diapun berkata, “Wahai putra Rasulullah, izinkan aku pulang ke rumahku.” Imam tersenyum menanggapinya dan berkata, “Baiklah jika itu yang kau inginkan.” (Kalimat al-Imam al-Hasan hal: 168)

Adab yang lain dalam bersahabat adalah menghormati sahabatnya. Sebab dalam bersahabat, masing-masing pihak akan mendapatkan hak yang harus dijaga oleh sahabatnya. Salah satu hak itu adalah penghormatan. Islam menekankan keharusan bagi setiap orang untuk menghormati orang lain. Penghormatan terkadang menjadi kunci dalam meluruskan perilaku dan sifat orang.

Dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali (as) saat berjalan menuju Kufah berpapasan dengan seorang Yahudi yang juga sedang dalam perjalanan menuju pinggiran Kufah. Orang Yahudi itu tidak mengenali orang yang berpapasan dengannya itu, tak lain adalah khalifah kaum muslimin. Tapi karena kesamaan tujuan, mereka berjalan bersama. Selama perjalanan keduanya terlibat percakapan. Akhirnya mereka tiba di persimpangan jalan yang memisahkan Kufah dari desa-desa pinggirannya. Imam Ali (as) tidak memilih jalan ke Kufah tetapi ikut menyertai si Yahudi. Diapun bertanya-tanya keheranan. “Bukankah tujuanmu adalah kota Kufah?” Imam menjawab, “Benar”. “Lalu mengapa engkau mengikutiku dan tidak berjalan ke arah kota?” tanyanya lagi. Imam Ali tersenyum dan berkata, “Kita sudah berkawan dalam perjalanan ini. Apa yang kulakukan adalah demi menutup persahabatan dalam perjalanan ini dengan baik. Sebab Nabi Saw memerintahkan kami untuk menghormati kawan seperjalanan dengan berjalan bersamanya beberapa langkah untuk melepas kepergiannya.” Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Benarkah Nabi kalian yang memerintahkannya?” Imam Ali menjawab, “Benar.” Menyaksikan akhlak mulia yang ditunjukkan Imam Ali, orang Yahudi itupun masuk Islam. (Al-Ushul min al-Kafi juz 2 hal: 670 hadis:5)

Tugas dan adab persahabatan yang lain adalah menjaganya dalam kondisi yang sulit seperti saat jatuh sakit. Luqman al-Hakim berkata, “Engkau tak akan pernah mengenal sahabatmu kecuali saat engkau memerlukannya.” (Bihal al-Anwar Juz: 74 hal: 178)

Diriwayatkan bahwa suatu hari salah seorang sahabat Imam Ali (as) yang bernama Harits al-Hamdani jatuh sakit dan nampaknya ajal tak lama lagi akan menjemputnya. Mendengar berita itu, Imam pun bergegas menjenguknya. Imam duduk di sisi pembaringan sahabatnya. Ketika Harist membuka matanya, ia melihat pujaan hatinya berada di sisi pembaringan. Setelah berbasa-basi sekedarnya, Imam Ali (as) berkata kepada Harist, “Wahai Harits! Di alam sana, manusia akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya.” Wajah Harits yang dikenal sebagai pencinta Ali terlihat berseri mendengar kata-kata Imam Ali yang diucapkannya sebanyak tiga kali itu. Untuk beberapa saat, Harits terlihat segar dan dia sempat duduk dan mengatakan, “Setelah ini, tak ada yang aku takutkan apakah aku yang menyongsong kematian atau kematian yang datang menjemputku.” Tak lama setelah itu Harits meninggal dunia. (Bihar al-Anwar juz: 6 hal: 179)

Tatakrama berikutnya dalam bersahabat adalah menghindari kesombongan dan kecongkakan dalam berkawan. Persahabatan akan kokoh ketika seseorang tak hanya menghormati sahabatnya tetapi juga tak pernah melihat dirinya lebih tinggi dan mulia dari sahabatnya. Dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadis disebutkan kecaman keras terhadap kesombongan. Bahkan ayat 60 surat al-Zumar menyebut neraka sebagai tempat bagi orang yang sombong. Ayat 215 surat al-Syu’ara memerintahkan Nabi Saw untuk merendah di hadapan kaum mukminin.

Menurut Islam, kesombongan hanya sifat yang layak disandang oleh kaum durjana dan congkak. Sementara, orang yang bertaqwa lebih bersikap rendah hati dan bergaul dengan keakraban. Sebab rendah hati akan memperkokoh persahabatan dan mendatangkan keakraban dan kasih sayang. Dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda, “Sebaik-baik mukmin adalah orang yang mendatangkan keakraban di antara kaum mukminin”. Dan “Tak ada kebaikan pada orang yang tidak membuat orang lain akrab dengannya dan tidak mengakrabkan diri dengan orang lain.” (Bihar al-Anwar juz: 77 hal: 149)

Adab persahabatan yang lain adalah kepedulian untuk memberikan kritik membangun. Imam Sadiq (as) berkata, “Saudara seagama yang aku cintai adalah orang yang memberitahuku akan aibku.” (Ushul al-Kafi juz: 2 hal: 610) dalam hadis yang lain, Nabi Saw bersabda, “Mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.” (Safinah al-Bihar juz: 1 hal: 40). Hadis tadi menjelaskan satu hal tentang keterbukaan hati untuk menerima kritik. Ibarat cermin, sahabat akan menunjukkan kekurangan dan kelemahan sahabatnya untuk diperbaiki yang tentunya hal itu dilakukan dengan cinta dan ketulusan. Sahabat yang baik menunjukkan kekurangan sahabatnya apa adanya. Sahabat yang baik dan bijak juga akan menunjukkan kepada sahabatnya akan kelebihan yang ada padanya. Orang yang bijak tentu akan senang jika mengetahui aib dan kekurangan dirinya untuk bisa memperbaikinya.

Adab lain dalam persahabatan adalah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan pihak yang diminta maaf harus memaafkannya. Salah satu kriteria orang yang memiliki jiwa yang sehat adalah kesiapan dirinya untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan siap memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan terhadapnya. Orang yang tidak mau mengakui kesalahan sebenarnya ia lari dari kenyataan. Orang yang lari dari kenyataan tak akan pernah bisa meniti jalan kesempurnaan insani. Sebab, langkah awal untuk memperbaiki diri adalah mengakui kesalahan. Salah satu hal yang membuat orang sukar mengakui kesalahan adalah kesombongan dan takabbur. Orang yang demikian tak mau memandang dirinya bersalah lalu meminta maaf kepada orang lain.

Islam mengajarkan kepada kita untuk meminta maaf saat bersalah dan memaafkan kesalahan orang lain. Imam Ali (as) berkata, “Salah satu sifat yang paling mulia adalah memaafkan kesalahan orang lain.” (Syarah Ghurarul Hikam juz: 6 hal: 18) Dalam riwayat yang lain beliau berkata, “Orang yang paling buruk adalah yang tak mau memaafkan kesalahan orang.” (Syarah Ghurarul Hikam juz: 6 hal: 165)

Orang yang meminta maaf adalah orang yang, pertama, mengakui kesalahan. Lalu dengan menghilangkan kesombongan diri dia mau meminta maaf kepada sahabatnya. Perbuatan ini jelas layak dipuji dan penghargaan terbaik untuknya adalah memberinya maaf dengan tangan terbuka. Imam Ali (as) berkata, “Orang yang paling banyak memaafkan berarti dia memiliki makrifat yang besar kepada Allah.” (Syarah Ghurarul Hikam juz: 2 hal: 444)

 http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=34485&Itemid=77

Author:

Teman yang baik, teman yang memaksa anda untuk terus berkembang...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s